Guruku: Oase di Tengah Gurun (1)

Suatu sore, sepulang mengajar dari tempat kerja yang jaraknya kurang lebih 70 km dari rumah, aku melihat guruku sewaktu SMA sedang berdiri di samping sebuah mesjid. Aku pun menghentikan sepeda motor dan kemudian menghampiri guru tersebut. Beliau pun tersenyum, mengingatkanku akan cara mengajar dan mendidiknya kurang lebih 15 tahun lalu. Lebih kaget lagi ketika dia menyapa dengan menyebut namaku. Subhanallah, beliau masih ingat namaku, padahal usianya sudah beranjak senja dan juga sudah sangat lama kita tidak berkomunikasi.

Pembicaraan singkat pun berlangsung. Beliau menanyakan profesiku sekarang dan juga tempat kerjaku. Saya pun menjawabnya seraya memohon doa beliau semoga aku dan keluargaku berada dalam keadaan sehat dan sejahtera.

Beliau pun mengamininya. Beliau juga menyarankanku untuk kembali melanjutkan studiku, dengan alasan bahwa aku masih muda dan memiliki potensi untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau masih tetap memberikan motivasi kepadaku meski kita sudah jarang bertemu. Aku pun mohon pamit kepada beliau untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Di sisa perjalanan pulang itulah, aku teringat akan guru yang baru kutemui ini. Betapa tidak, beliau adalah guru favoritku selama di SMA. Beliau selalu datang lebih awal dari murid-muridnya, padahal jarak dari rumahnya ke sekolah sekitar 40 km. Beliau menumpang angkutan umum setiap hari untuk melaksanakan tugas sucinya itu. Meski demikian, aura kelelahan tidak pernah nampak di wajahnya.

Beliau mengajar bidang studi Geografi waktu itu. Pada masa itu, pelajaran inilah yang paling dinantikan. Mengapa? Karena gurunya memang sangat mengagumkan. Selain dari sisi keteladanan yang memang layak ditiru dalam kedisiplinan dan ketegasan, beliau juga sangat menguasai pelajaran yang akan diajarkan kepada murid-muridnya. Beliau jarang sekali membawa buku paket ketika mengajar. Yang paling membuat kita sebagai muridnya merasa takjub dan menaruh rasa hormat yang tinggi adalah kemampuannya untuk menggambar peta buta dengan cepat dan persis dengan peta-peta di dalam atlas.

Suatu ketika, pernah ada latihan menunjukkan lokasi di peta buta yang beliau gambar. Salah seorang temanku disuruh ke depan untuk menunjukkan benua Afrika. Ketika temanku sudah di depan papan tulis, ia malah menunjukkan salah satu samudera. Kontan, semua teman-temanku tertawa. Namun, guruku yang satu ini malah tidak menertawakannya, namun mencoba membantu temanku itu untuk menunjukkan kembali benua Afrika. Ternyata, meski guruku ini bertampang sangar dan sangat disegani siswanya, beliau juga adalah guru yang bijak. Guru yang tidak pernah menertawakan dan menghina kemampuan siswanya. …

Guruku: Oase di Tengah Gurun (2)

Tulisan ini memenangkan Juara Kedua pada [EVENT] Lomba Menulis Essay Online Spesial Hari Guru di forum Kaskus tahun 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *