Refleksi 71 Tahun Merdeka

Untuk arwah para pejuang kemerdekaan bangsa ini, al-Fatihah!
Ketika kemerdekaan menjadi hal yang wajib disyukuri, lantas apa yang harus kita lakukan?

Mengutip pendapat ahli bijak, cara bersyukur seorang hamba bisa dimulai dengan mengucapkan, ‘Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, terima kasih atas karunia yang telah Kau berikan…’.

Selanjutnya, apa yang telah Dia anugerahkan itu kita manfaatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan baik pribadi, orang lain maupun dunia.

Kita manfaatkan anugerah itu untuk hal-hal yang dicintai-Nya.Kita tidak boleh menyalahgunakan nikmat yang diberikan itu untuk hal-hal yang dibenci-Nya.

Kemerdekaan adalah anugerah terindah Allah bagi bangsa ini. Agar kemerdekaan ini benar-benar menjelma secara hakiki, sudah seharusnya kita mensyukurinya dengan cara yang dikehendaki-Nya.

Jika masih banyak di antara kita yang menyangsikan keberkahan negeri ini, maka sudahkah kita mengintrospeksi diri kita sebagai syarat sekaligus unsur terkecil bangsa yang makmur sentosa.

Dalam terminologi Qur’an, mungkin makmur dan sentosa ini diwakili oleh ungkapan ‘lafatahnaa ‘alayhim barokaatin minas-samaa’i wal-ardhi’ (pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi).

Yang harus menjadi pertanyaan kita, apakah syarat untuk menggapai kemakmuran tersebut? ‘Wa law anna ahlal-quraa aamanuu wattaqaw (Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa).

Mudah-mudahan kita tidak tergolong bangsa yang ‘walaakin kadzdzabuu’ ( tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu), sehingga mengundang janji Allah ‘faakhodznaahum bimaa kaanu yaksibuuna’ (maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.).

Kemerdekaan suatu bangsa berawal dari kemerdekaan kita sebagai unsur bangsa itu. Dan kemerdekaan kita sebagai bangsa harus diawali kemerdekaan kita sebagai hamba Tuhan.

Sejatinya kemerdekaan seorang hamba adalah ketika ia menafikan berbagai bentuk keterikatan dan ketundukan selain hanya kepada-Nya.

Disinilah peran iman dan takwa menjadi vital bagi kemerdekaan seorang hamba. Mengapa? Karena sebagaimana terekam dalam belasan ayat-Nya, jaminan bagi orang yang bertakwa adalah ‘laa khawfun ‘alayhim wa laa hum yahzanuun’ (mereka tidak pernah diliputi rasa takut dan juga khawatir).

Bukankah ketakutan dan kekhawatiran adalah salah satu bentuk penjajahan atas diri? Dalam lingkup lebih luas, imbas dari penjajahan dalam bentuk apapun (imperialisme, kolonialisme) adalah menciptakan ketakutan dan kekhawatiran di negara terjajah.

Ketika seseorang berhasil meminimalisir kedua hal negatif ini, maka sesungguhnya ia telah berusaha memerdekakan dirinya. Begitu juga dengan sebuah bangsa.

Terakhir, mari kita resapi pesan-Nya berikut ini secara utuh dan komprehensif, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf Ayat: 96)

Merdekakan diri kita, merdekalah bangsa kita!
Merdeka!
Dirgahayu RI ke-71

Tanggeung, 17-08-2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *