Pilihan Terbaik Itu Bernama Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP: Bagian 1

Oleh: Asep Muhammad Saepul Islam (Mang Amsi)

owner www.MangAmsi.com, founder & CEO www.SyariahSaham.com

Perjalanan mendapatkan beasiswa LPDP adalah salah satu petualangan menakjubkan yang pernah saya alami dalam hidup. Betapa tidak, beasiswa ini telah mengubah arah kehidupan saya setidaknya dalam kurun waktu dua tahun selanjutnya. Saya ditakdirkan menjadi awardee LPDP dari kalangan guru.

Saya bertugas untuk mengajar di daerah yang jauh dari pusat kota, kurang lebih 80 kilometer dari ibukota kabupaten. Saya benar-benar tidak menyangka jika pada akhirnya dapat bergabung bersama orang-orang pilihan dari seluruh Indonesia dengan beragam latar  belakang profesi dan bidang kajian.

Bagi teman-teman yang fresh graduate, peluang mendapatkan beasiswa tentunya lebih terbuka lebar. Namun, bagi teman-teman yang sudah mulai bekerja apalagi bertugas sebagai abdi negara, mencari beasiswa itu gampang-gampang susah, apalagi bagi seorang guru di bawah Kementerian Agama.

Program beasiswa dari kementerian jarang terpublikasi dengan baik dan biasanya menuntut syarat-syarat yang tidak mudah. Sebagai contoh, beberapa tahun silam, ketika baru bertugas kurang lebih 4 tahunan, ada tawaran beasiswa dari kementerian untuk guru di bidang studi tertentu. Namun, karena ada syarat masa kerja minimal 5 tahun, maka saya pun urung mengikuti seleksi beasiswa tersebut.

Maka, pada tanggal 26 bulan Maret tahun 2013, sebuah pesan singkat di inbox Facebook menjadi titik tolak merintis mimpi itu. Saat itu, teman semasa kuliah mengabarkan bahwa ada peluang beasiswa LPDP Kemenkeu yang dilansir salah satu media online nasional.

Saya pun langsung menuju laman situs yang disarankan teman tersebut. Setelah diberitahu tentang website LPDP, langkah selanjutnya adalah membuat akun di laman beasiswa LPDP. Rangkaian proses registrasi online pun diikuti dengan teliti dan sabar.

Namun, tes TOEFL menjadi tantangan  besar dalam menempuh proses ini. Mengapa? Karena seumur hidup belum pernah mengikuti tes yang satu ini. Tapi, ketika tiang mimpi sudah dipancangkan, pantang untuk mundur walau selangkah. Mbah Google menjadi dewa penolong di saat kekurangan informasi tentang TOEFL saya butuhkan. Maklum, sudah hampir 12 tahun tidak lagi belajar bahasa Inggris secara intensif. Terakhir belajar bahasa Inggris secara terstruktur adalah ketika mengambil mata kuliah wajib bahasa Inggris pada semester 4.

Skor TOEFL harus minimal 500. Duh, gimana ya caranya? Sementara waktu sudah mendesak, karena pendaftaran beasiswa LPDP saat itu masih memberlakukan deadline registrasi. Pada periode awal program beasiswa LPDP ini, tanggal 30 April 2013 menjadi batas akhir upload seluruh berkas yang dibutuhkan.

Berkas yang belum lengkap adalah sertifikat TOEFL ITP yang harus mencapai  skor minimal 500. Saya baca-baca di internet, ternyata waktu penyelenggaraan tes TOEFL ITP oleh lembaga yang ditunjuk ETS dilakukan hampir serentak pada setiap pertengahan bulan.

Salah satu penyelenggara TOEFL ITP adalah Balai Bahasa UPI yang pada bulan April 2013 dijadwalkan tanggal 11. Sementara itu, tanggal 8 April saya baru  sempat mengontak Balai Bahasa UPI, dan jawaban dari operator adalah, “Maaf, Pak! Kuota peserta tes TOEFL tanggal 11 April sudah penuh”. 

Jawaban ini lumayan membuat galau, namun pernyataan operator berikutnya sedikit memberikan harapan, “Saya minta nomor HP Bapak saja, barangkali ada peserta yang mengundurkan diri.”

Usaha terus dilakukan, Google kembali menjadi teman setia dalam mencari informasi. Saya mencari alternatif tempat lain untuk mengikuti tes TOEFL ITP. ITB dan beberapa lembaga kursus di Bandung sudah menutup pendaftarannya sejak minggu lalu. Begitu juga dengan IPB dan UI.

Ketika sudah mulai hampir putus asa mencari tempat lain yang terdekat, ternyata ada lembaga kursus baru di daerah Sukabumi yang masih membuka pendaftaran tes TOEFL ITP. Bulatlah rencana, besok akan saya hubungi lembaga ini.

Keesokan harinya, sekitar jam 8 pagi, saat saya akan mencoba menghubungi tempat tes di Sukabumi, ternyata di ponsel ada panggilan tak terjawab dengan nomor kode awal kota Bandung. Kemudian saya telepon balik, ternyata dari Balai Bahasa UPI Bandung yang memberikan kesempatan bagi saya untuk  mengikuti tes 2 hari berikutnya. Alhamdulillah, jalan sudah dibukakan, tinggal memaksimalkan persiapan.

lpdp-toefl transferPraktis hanya tersisa 2 hari untuk mempersiapkan diri menjelang tes TOEFL ITP itu. Yang bisa dilakukan adalah ‘googling’ kembali tentang materi tes TOEFL, dan mencoba membaca salinan buku TOEFL Barron yang sempat saya fotokopi 8 tahun lalu . Walhasil persiapan pun terkesan seadanya, dan hari ujian pun tak terasa sudah di depan mata.

Saya hanya pasrah dengan usaha yang telah dilakukan, dan apapun hasilnya, saya yakini sebagai takdir terbaik yang Allah gariskan. Alhamdulillah, tes TOEFL dilalui dengan lancar dan amazing, karena inilah tes TOEFL pertama kali yang saya ikuti.

Sambil menunggu hasil tes TOEFL yang akan diumumkan paling cepat 10 hari kerja setelah pelaksanaan tes, maka saya pun mengecek kembali persyaratan-persyaratan yang telah ada. Saya pun mengunggah satu per satu berkas yang sudah lengkap.

Setelah menunggu hampir 2 minggu, akhirnya skor tes itu pun diumumkan. Alhamdulillah, hasilnya memang di luar dugaan, dan sedikit di atas skor yang dipersyaratkan LPDP. Hasil yang luar biasa untuk seorang newbie.  Maka, setelah saya ambil sertifikat hasil tes TOEFL di Balai Bahasa UPI, saya langsung scan sertifikat yang lebih mirip kuitansi itu.

Ketika akan mengunggah scan sertifikat hasil TOEFL, tanpa disangka, di website LPDP tertulis pengumuman bahwa situs tersebut sedang mengalami maintenance sampai tanggal 30 April 2013. Kesabaran dan keteguhan menggapai mimpi kembali diuji.

Tulisan selanjutnya …

One thought on “Pilihan Terbaik Itu Bernama Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP: Bagian 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *