Empat Surat Al-Quran Pertama dan Implikasinya bagi Peningkatan Kualitas Guru: Bagian Pertama

Seperti diketahui, tanggal 25 November diperingati sebagai hari guru nasional. Pemerintah Republik Indonesia menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Guru Nasional yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 yang dikuatkan oleh Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Tanggal tersebut juga merupakan hari lahirnya Persatuan Guru Indonesia (PGRI).

Terlepas dari agenda hari guru nasional yang jatuh hari ini, ada beberapa pertanyaan yang layak diajukan terkait hal ini. Apakah guru di negeri ini sudah benar-benar berkarakter sebagai seorang guru? Ataukah hanya terjebak dalam profesi yang ujung-ujungnya menuntut kelayakan kesejahteraan semata?

Sebagai seorang Muslim, kita sepakat bahwa patron guru yang terbaik adalah Rasulullah saw. Bagaimana beliau diutus untuk mendidik, memotivasi dan membangun umatnya menjadi umat dengan peradaban yang tinggi? Dalam proses membangun umat terbaik ini, tentunya Allah membekali Rasululllah saw dengan kurikulum, metode dan strategi pembelajaran yang relevan.

Jika kita telusuri empat surat pertama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw, maka langkah-langkah membentuk karakter seorang guru dapat kita cermati dan teladani. Empat surat tersebut adalah Al-‘Alaq (96), al-Qolam (Nun, 68), al-Muzzammil (73) dan al-Muddatstsir (74).

Al-‘Alaq turun sebagai wahyu pertama yang diturunkan Allah. Ini sekaligus bisa dimaknai juga sebagai langkah pertama pembentukan karakter guru.

Semangat membaca menjadi fokus pada fase ini. Membaca dalam hal ini tertuju pada apa saja, bukan hanya yang berbentuk bacaan atau referensi, tetapi juga membaca fenomena alam dan sosial. Hal ini diindikasikan oleh dua kata ‘iqra’ yang terdapat dalam surat ini. Kedua kata ‘iqra’ pada ayat ayat pertama dan ketiga tidak dilengkapi dengan objek (maf’ul bih), padahal kata ‘iqra’ dalam bahasa Arab biasanya membutuhkan objek.

Terkait dengan hal ini, kita patut prihatin dengan rendahnya minat baca di kalangan guru. Dalam beberapa informasi yang dilansir dari media nasional, terungkap bahwa minat baca guru maupun siswa masih rendah.

Padahal menurut beberapa penelitian, guru yang bisa menularkan minat baca ke murid, akan membuat anak didiknya mumpuni dalam mata pelajaran. Pengetahuan dan kemampuannya juga akan lebih luas dan terbuka dengan banyak membaca.

Dalam konteks dunia, UNESCO pada 2012 mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Sedangkan UNDP merilis angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen, sementara Malaysia sudah mencapai 86,4 persen.

Melihat fenomena di atas, sudah selayaknya guru meningkatkan kuantitas dan kualitas bacaannya demi peningkatan kinerja profesinya yang pada gilirannya akan berdampak pada kemampuan peserta didiknya.

Selanjutnya, surat Al-Qolam yan turun sebagai surat kedua mengindikasikan pesan bahwa guru harus rajin menulis. Kemampuan menulis terkait erat dengan kemampuan membaca. Menulis merupakan keterampilan produktif yang akan muncul dengan sendirinya ketika seseorang sudah rajin membaca.

Pada kenyataannya, kemampuan menulis di kalangan guru masih rendah. Padahal kemampuan menulis bagi seorang guru apalagi menulis karya ilmiah merupakan keharusan sebagai persyaratan akademis dan administrasi kepegawaian. Saking pentingnya, Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen menyebutkan bahwa guru profesional dibuktikan kemampuannya dalam menulis karya ilmiah. Hal ini sekaligus menjadi syarat kenaikan pangkat dan jabatan.

Begitu pula Peraturan Menteri (Permen) Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi (RB) Nomor.16 Tahun 2009, tanggal 10 November 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit. Pasal 17 menjelaskan bahwa kenaikan pangkat guru mulai dari golongan ruang III b ke atas dipersyaratkan mengajukan karya tulis ilmiah. Peraturan ini mulai berlaku tahun 2011 dan berlaku secara efektif mulai tanggal 1 Januari 2013.

(bersambung ke bagian kedua)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *