Kamar-kamar: Status Malam Jumat

MangAmsi.Com, CIANJUR — Entah kenapa saya seolah mendapat ilham untuk menulis ini. Saya teringat dengan salah satu surat dalam Al-Qur’an. Ya, surat yang bernomor 49. Sesudah surat Al-Fath, sebelum Qaf. Al-Hujurat namanya. Kamar-kamar adalah artinya.

Mengapa teringat al-Hujurat? Bukan karena efek malam Jumat, tapi belakangan ini suasana pertemanan di medsos barangkali membutuhkan peresapan makna beberapa ayat dari surat dimaksud.

Ada ayat enam yang bicara tentang konfirmasi suatu berita atau istilah syar’i-nya itu tabayyun. Bahasa kekiniannya mungkin menangkal hoax, sampai-sampai MUI melalui DSN nya menerbitkan fatwa muamalah di media sosial. Ada ayat sepuluh yang menegaskan bahwa sesama orang beriman itu saudara, karena itu kita wajib mengishlahkan jika ada pertikaian.

Ayat kesebelas mengingatkan kita untuk tidak menghina suatu golongan karena belum tentu kita lebih baik dibanding mereka. Selain itu, kita tidak boleh saling mencela antarsesama, melabeli orang lain dengan gelar yang buruk, karena jika kita tidak menyadari semua itu sebagai sebuah kesalahan, boleh jadi kita termasuk orang zalim.

Larangan berprasangka karena sebagian besar sangka adalah dosa merupakan tema utama ayat kedua belas. Kita tidak boleh saling menspionase dengan tujuan yang buruk dan tidak boleh saling menggunjing. Bahkan Allah SWT menamsilkan perbuatan ini sebagai memakan bangkai saudara sendiri.

Untuk menghindari pelbagai potensi konflik sosial akibat perbuatan agitatif dan kontraproduktif di atas, Allah SWT menganjurkan kita untuk menyadari bahwa kita memang terlahir beragam: jenis kelamin, suku, dan bangsa. Semuanya ditakdirkan berbeda dengan tujuan untuk saling mengenal. Karena yang paling mulia di sisi-Nya, hanyalah orang yang paling bertakwa. Demikian parafrase ayat ketiga belas.

‘Alaa kulli haal. Al-Hujurat ini adalah bagian dari mahar saya kepada mojang Bandung yang kini menjadi ibu dari empat permata hati kami. Ya, entah kenapa saya ingin membacakan hafalan surat ini sebagai bagian maskawin di momen sakral itu. Mungkin surat ini juga yang akhirnya berimbas pada seringnya kita masuk kamar. Dan, hasilnya cukup membanggakan juga membahagiakan. Hehe …

Dan, jika kita menelisik lebih jauh ke belakang, Al-Hujurat ini adalah surat yang kali pertama dikirim oleh seorang mahasiswi di saat saya masih belum begitu mengenalnya. Mahasiswi berusia 17 tahun itu meminta bantuan saya untuk menerjemahkan tafsir surat al Hujurat. Mahasiswi itu jua yang akhirnya menyimak kidung hafalan al Hujurat versi saya sebagai mahar untuknya. Ya, mahasiswi itu kini tengah berada di dekatku, dan seperti arti surat al Hujurat, mari kita ke kamar!

Tegalcaang, malam Jumat 19 Rajab 1439 H
for my beloved, Ane Saidatuddaroeni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *