[PERMOHONAN TESTIMONI] Mang Amsi: Dari Belantara Untuk Nusantara

Assalamu’alaikum wr wb

Semangat pagi teman-teman!

Mohon maaf mengganggu aktivitas teman-teman semuanya.

Perkenalkan nama saya Asep Muhammad Saepul Islam, lebih dikenal sebagai Mang Amsi. Saya guru bahasa Arab dan Hafalan Qur’an di MAN 3 Cianjur (dh. MAN Tanggeung) sejak hampir 14 tahun lalu (mulai Juli 2005).

Beberapa waktu lalu, ada alumni yang mengusulkan saya untuk mengikuti ajang pemilihan Guru Inspiratif Jawa Barat 2018. Sudah lama sebenarnya, tapi karena kelupaan ternyata deadline nya dua minggu lagi, hehe.

Sejatinya, saya merasa belum layak untuk diajukan. Akan tetapi melihat kesungguhan alumni yang mendaftarkan, saya putuskan untuk ikut mencoba saja.

Berikut ada form testimoni yang dibutuhkan dari teman-teman sebagai partner belajar saya selama ini (bagi yang sedang tidak sibuk dengan aktivitas lain).

Silakan unduh dengan mengklik tautan berikut:
Form Testimoni Amsi ESA 2018

Deskripsi dalam testimoni memuat:
• Lamanya hubungan terjalin dengan guru yang diberi testimoni
• Pengalaman/kesan tentang guru yang diberi testimoni
• Bentuk perilaku yang menginspirasi
• Dampak perilaku yang menginspirasi terhadap pemberi testimoni dan masyarakat di sekitarnya

Mohon diisi, kemudian diprint, atau ditulis tangan, ditandatangani, dan dikirim ulang foto/hasil scanannya, boleh via japri atau email ke : mangamsi@gmail.com

Terima kasih atas perhatiannya, semoga berkah buat semua.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Salam hormat,

Mang AMSI
0819 1202 5005
IG: @mang_amsi
FB: Asep Muhammad Saepul Islam
www.MangAmsi.com

====
Sekilas Mang Amsi

Nama saya Asep Muhammad Saepul Islam. Teman-teman dan murid-murid biasa memanggil saya dengan sebutan Pak Amsi atau Mang Amsi. Amsi sendiri merupakan singkatan dari huruf awal nama lengkap saya. Saya tinggal di kampung yang lumayan jauh dari kota Cianjur. Tempat kerja saya lebih jauh lagi, sekitar 80 km ke arah pantai Selatan. Sejak tahun 2005, saya ditugaskan menjadi guru Bahasa Arab di MAN 3 Cianjur (dh. MAN Tanggeung).

Tahun ini adalah tahun ke-14 saya mengabdi di MAN 3 Cianjur. Beragam kisah suka dan duka mengiringi fragmen perjalanan hidup sebagi guru di selatan Cianjur ini. Saya mulai menjadi guru di MAN 3 Cianjur sejak masih belum menikah sampai kini sudah punya empat orang anak. Istri dan anak-anak setiap minggu saya tinggal untuk menjalankan tugas di balik belantara. Saya pergi Senin subuh dan pulang Kamis sore atau Jumat besoknya.

Alhamdulillah, selama saya menjadi guru di sekolah tersebut, saya berusaha untuk terus mengembangkan pola pembelajaran dan pendidikan bagi para peserta didik.

Tahun 2006, saya menggagas adanya program menghafal Qur’an yang dijadikan pelajaran muatan lokal. Saat pertama kali diberlakukan, para siswa kelas X diwajibkan menghafal juz 30 selama satu tahun, dan kelas XI menghafal juz 1.

Tahun 2008, saya menginisiasi berdirinya UPTQ (Unit Pengembangan Tahfiz Qur’an) MAN Tanggeung. Unit kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program muatan lokal sebelumnya. Mulai tahun 2009, kita aktif mengirimkan anak didik ke ajang perlombaan MTQ dan cabang-cabangya. Alhamdulillah, beberapa prestasi lahir dari cabang Fahmil Qur’an mulai dari level lokal sampai nasional.

Tahun 2014, alhamdulilah salah satu alumni MAN 3 Cianjur atas nama Faiz Jalaludin yang dulu dibina di UPTQ berhasil menjuarai Fahmil Qur’an Tingkat Nasional pada ajang MTQ Nasional di Kepulauan Riau. Terakhir, pada tahun 2018, delegasi MAN 3 Cianjur dengan mewakili kecamatan asal peserta didik berhasil menyapu bersih juara 1, 2 dan 3 Musabaqoh Fahmil Qur’an Tingkat Kabupaten Cianjur, dan berhak mewakili Kabupaten di Tingkat Provinsi.

Pada tahun 2010, sempat terjadi penyerangan terhadap sekolah yang dipicu kekhilafan saya menindak anak didik. Persekusi tersebut saya kenang sebagai peristiwa 15 Desember.  Kejadian ini menyadarkan saya artinya kesabaran dan keluwesan dalam mendidik.

Tahun 2013, setelah usaha mutasi ditolak oleh pihak Kanwil Kemenag, Alhamdulillah saya ditakdirkan lulus seleksi Beasiswa LPDP 2013. Seleksi beasiswa ini dilakukan dalam tiga tahap: administrasi, wawancara dan program kepemimpinan. Saya mengambil risiko dengan mengajukan tugas belajar dan cuti selama dua tahun berikutnya. Saya lulus tes masuk di UIN Jakarta dan mengambil konsentrasi Pendidikan Bahasa Arab. Menjadi awardee salah satu beasiswa favorit negeri ini tentunya menjadi kebanggan dan kebahagiaan tersendiri bagi saya yang tinggal di kampong dan kerja di gunung.

Tahun 2015, saya lulus sebagai alumni pertama penerima beasiswa LPDP di UIN Jakarta. Alhamdulillah, dengan nilai hampir “Cum Laude,” saya dinyatakan sebagai Magister Agama dan Pendidikan. Saya pun kembali mengabdi ke tempat semula mulai September 2015.

Pada awal-awal masa kembali dari cuti, saya pernah terkena musibah. Saya tertimpa dahan pohon pada saat perjalanan pulang dari tempat kerja menuju rumah. Alhamdulillah, saya tidak mengalami cedera serius saat itu.

Mulai tahun 2015, saya juga merintis komunitas investor saham syariah di Indonesia. Ide ini bermula saat diskusi dengan teman kuliah asal Thailand yang sangat antusias dengan perkembangan saham syariah di negeri kita. Hasil diskusi inilah yang mendorong saya membuat blog sederhana (www.SyariahSaham.com )tentang edukasi saham syariah khususnya, dan pasar modal syariah pada umumnya.

Alhamdulillah, komunitas tersebut perlahan mulai dikenal oleh khalayak. Mulai tahun 2016, saya sering diundang menjadi pembicara seputar saham syariah oleh kalangan kampus, regulator, pesantren, dan pihak lain yang berkepentingan. Dari sumber terkini diperoleh data member komunitas Syariah Saham telah mencapai lebih dari 10 ribu orang (dari berbagai platform media social dan kursus online). Tahun 2017, Syariah Saham merilis eClass (www.SahamSyariah.id ), sebuah platform pembelajaran online khusus saham syariah dan pasar modal.

Dalam hal kontribusi ke masyarakat sekitar, mulai tahun 2008 saya menggagas fundraising online melalui blog (www.RehabMajlis.info). Alhamdulillah, beberapa program renovasi dan pembangunan sarana ibadah dan pendidikan dapat terlaksana dengan baik melalui pola penggalangan dana seperti ini dan dapat dimanfaatkan oleh tetangga dan lingkungan sekitar tempat tersebut.

Saya lebih memposisikan diri sebagai pendidik yang bukan hanya pengajar. Ketika kita memberikan bobot lebih profil guru sebagai pendidik, maka nilai-nilai kebaikan universal menjadi hal utama yang ditransformasikan. Bukan bertumpu pada skor-skor numerik yang terkadang manipulatif. Hal ini juga yang sering saya tekankan kepada para anak didik. Kejujuran adalah segalanya. Lebih baik kita mengisi ujian sebisanya, dari pada skor tinggi tetapi hasil dari menyontek.

Hal lain yang sering saya share ke anak didik saya adalah berbagi. Berbagi itu tidak akan pernah rugi. Sharing is believing. Tentunya berbagi hal hal yang baik dan positif, salah satunya kepercayaan diri dan menaklukkan diri sendiri.

Suatu ketika saya pernah ditanya tips dan trik perihal keberhasilan anak-anak dalam berprestasi. Saya menjawab, justru karena saya tidak pernah menargetkan mereka juara, mereka menjadi juara. Mengapa? Karena pesaing sesungguhnya dalam sebuah ajang perlombaan bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri.

Saya memiliki filosofi: dari hina, untuk makna, lalu fana. Ya, setiap orang terlahir dari air mani yang hina, namun tugas kita adalah menjadi makna yang memberi makna bagi setiap yang membutuhkan makna. Karena pada akhirnya semua makhluk akan menjadi fana. Selama hidup itulah makna yang sesungguhnya dapat kita ciptakan. Semoga apa yang saya narasikan dapat memberikan sesuatu yang bermakna bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *