Antara Guru, Pedagang dan Penggembala

Teacher also trader. Menjadi pengajar sekaligus pedagang. Dua profesi yang membutuhkan kesungguhan dan ketabahan. Bagi kita yang pernah membaca sejarah para Nabi dan Rasul, ada dua profesi yang kerap dikaitkan dengan masa-masa sebelum diangkat sebagai Nabi. Penggembala dan pedagang.

Menggembala dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai pengayoman, kasih sayang, rasa memiliki dan kepedulian.

Berdagang mengajarkan arti kejujuran, kesabaran, ketawakalan dan personal branding. Muhammad saw dikenal dengan sebutan al-Amin karena kejujuran dan keterpercayaanya, bukan hanya ketika bermasyarakat, tetapi juga ketika melakukan transaksi bisnis.

Sering kali saya juga teringat akan kisah Nabi Musa as ketika menemukan cinta sejatinya, Shafura binti Syu’aib as. Kisah cinta dua insan ini terekam dalam QS. Al-Qashash [28]. Bagaimana seorang pemuda Musa yang terkenal perkasa mengangkat batu yang menghalangi sumur tempat dua putri Nabi Syu’aib meminumkan ternaknya. Lagi-lagi ada kaitannya dengan gembala.

Lalu, putri Syu’aib ini melaporkan kejadian ini pada ayahnya, dan ayahnya pun mengundang Musa untuk datang ke rumah. Shafura, salah satu dari dua putri Syuaib langsung bangun cinta pada Musa, dan langsung mengutarakan keinginan pada ayahnya bahwa Musa ini adalah seorang yang perkasa lagi terpercaya (al-qowiyy al-amin).

Maka, singkat cerita, akhirnya Musa mempersunting Shafura dengan mahar menggembala selama delapan warsa.

Berniaga dan menggembala, bukanlah profesi yang marjinal, bahkan merupakan profesi mulia. So, jika kita tertakdirkan menjadi seorang guru atau ulama, jangan pernah merasa hina jika kita akhirnya ‘terpaksa’ menjadi pedagang juga penggembala.

🙂

Gambar : http://kolom.abatasa.co.id/gambar/kolom-penggembala-miskin-yang-kaya-ilmu-1056_l.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *