#FQ 07-10: Masa Intensif Sebagai “Atlet”

#FQ 07
1999. Setelah setahun ‘transit studi’, akhirnya pada tahun 1999, Allah memperkenankan saya masuk Bahasa Arab IKIP Bandung (belum UPI saat itu).

Baru beberapa minggu kuliah, ada pengumuman dari UPTQ IKIP tentang seleksi kafilah MTQ IKIP Bandung yang akan dipersiapkan mengikuti MTQ Nasional Antarmahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Solo.

Saya bersama Saepul Kamil dan Nurman Abinon diamanahi jurusan Diksasi/JPBA(?) untuk mengikuti seleksi tersebut. Alhamdulillah, kami berhasil menjadi tim terpilih, meski pada akhirnya Saepul Kamil digantikan oleh personil lain karena sakit.

Ini kali pertama saya mengikuti event tingkat nasional dan kali pertama juga mengunjungi kota Solo. Alhamdulillah, kami berhasil menembus semifinal, meski belum berhasil menjadi finalis.

Sebuah pengalaman berharga, karena di semifinal kami mengganti jurubicara, maka strategi yang sudah diplot sejak penyisihan menjadi sedikit terganggu, sehingga konsentrasi menjadi buyar.

Tapi, ini adalah jam terbang kami yang pertama di tingkat nasional, jadi hasil ini kami anggap sesuatu yang luar biasa. Di event ini juga, saya kembali dipertemukan dengan ‘langganan musuh’ semasa SMA di Cianjur. Beliau adalah kang Deden Firdaus yang saat itu sudah berbaju Universitas Lampung dan mengungguli kami di babak semifinal.

#FQ 08

2001. Event MTQ Mahasiswa tingkat Nasional kembali digelar. Kali ini mengambil tempat di provinsi baru, Gorontalo. Karena keterbatasan waktu, kami tidak diseleksi, langsung ditunjuk saja, kali ini bersama Nurman Abinon (kemarin caleg dari Kota Sukabumi) dan Dr. Ronny Mugara (sebentar lagi menjadi guru besar IKIP Siliwangi).

Teman sekaligus guru saya semasa di Mimkho, kang Dr. Nurman Kholis juga ikut mewakili UNPAD di cabang yang sama, Fahmil Qur’an. Bedanya, jika UPI (sudah UPI kalo ga salah waktu itu), menggunakan kereta api dan kapal laut selama 7 hari perjalanan, maka kang Nurman Kholis dan kawan-kawan dari UNPAD menggunakan pesawat terbang, he2.

Uniknya, di babak penyisihan, undian mempertemukan UPI dengan UNPAD, sehingga ‘perang saudara’ pun tidak terelakkan, dan hasilnya pun cukup melegakan dua pihak. Dua-duanya tidak lolos ke babak selanjutnya.

#FQ 09
2002-2005.
Inilah (mungkin) periode ‘keemasan’ yang sempat Allah hadirkan dalam perjalanan saya mengarungi dunia ‘perfahmilan’. Sepulang dari Gorontalo, praktis tidak ada lagi event yang bisa saya ikuti di tingkat mahasiswa.

Akhirnya, berawal dari ajakan kang Dr. (cand) Zulkifli Zlg, saya ‘iseng’ mengikuti MFQ tingkat Kota Bandung, dan diawali dari tingkat kecamatan Coblong (Dago dan sekitarnya). Alhamdulillah, kami (bersama Ahmad Fauzi & Ade Abina Azfa ) berhak mewakili Coblong di tingkat kota Bandung

#FQ 10
2003. Sebelum mengikuti MFQ tingkat kota Bandung, kang Firman Robiansyah (kini pejabat UPI Serang) menawari saya dan Saepul Kamil untuk mengikuti MFQ Kota Cimahi. Dengan alasan menambah jam terbang plus ‘mencari tambahan jajan’ (he2), kami pun menyetujui tawaran kang Firman dengan catatan tanpa target.

Namun, takdir berkata lain, saat di final, lawan kami menjawab salah pertanyaan yang diajukan juri, sehingga nilainya dikurangi 100 dan hasil akhir mengantarkan kami unggul tipis (25 atau 50) dari lawan. Sehingga, mau tidak mau, kami berhak mewakili kota Cimahi di tingkat provinsi yang akan diselenggarakan di Cipasung, Tasikmalaya, bulan April 2003.

— Untuk serial lainnya, silakan klik 
#1-6  | #7-10 (Anda sedang membacanya)#11-13 | #14-15 | #16 | #17-18 |#19-22 | #23  | #24 #25 | #26  | #27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *