#FQ 17-18: Resmi “Gantung Buku”

#FQ 17
2005. Tempat: Aula al-Musadadiyah, Garut. Event: MTQ Provinsi Jawa Barat. Kali ini untuk ketiga kalinya saya mengikuti MTQ Provinsi Jawa Barat.

Takdir Allah mempertemukan saya dengan kota Cimahi yang pernah saya ‘tinggalkan’ dua tahun sebelumnya (silakan lihat di #FQ 11).

Kami datang ke perlombaan kali ini dengan semangat dan ‘passion’ lebih karena diunggulkan banyak kalangan, tentunya karena pola pembinaan intensif plus insentif yang lebih tinggi dibanding sebelumnya dan juga harapan kota Bandung menjadi juara umum di event kali ini.

Namun, disinilah Allah kembali menegur kami untuk tidak merasa pongah dengan kemampuan yang dimiliki. Di sini juga menjadi momen ‘gantung buku’ saya di bidang Fahmil Quran.
Momen itu terjadi saat babak penyisihan.

Masih di Garut. O ya selama di Garut, kami ditempatkan di hotel Augusta, kawasan wisata Cipanas. Mungkin karena terlena dengan suasana hotel yang asri dan sejuk, kami tidak terlalu fokus untuk menghafal, tapi lebih menikmati suasana, he2..

#FQ 18

KISAH GANTUNG BUKU

Kembali ke pertandingan. Saat itu pertanyaan terakhir dari dewan hakim di babak soal rebutan. Posisi sebelum pertanyaan terakhir. Kami unggul tipis, selisih 50 saja dengan kafilah kota Cimahi.

Untuk itu, saya memberi bisikan kepada partner (ust. Saepul Kamil & ust. Dadun Abdul Manaf) untuk main aman saja, tidak berspekulasi, tidak menjawab kecuali kalau sudah yakin. Karena biasanya pertanyaan terakhir berupa ‘jebakan Batman’, he2

“Berapakah zakat yang harus dikeluarkan jika seseorang mempunyai 39 ekor kambing?” Demikian bunyi pertanyaan terakhir dari dewan hakim. Kami pun sudah melepas tangan dari bel regu.

Tapi setelah dipikir-pikir beberapa detik terlintas sebuah jawaban, “Belum wajib zakat, karena belum mencapai 40 ekor”.

Namun ketika tangan hendak merogoh bel, ternyata regu kota Cimahi sudah menekan bel lebih dulu dan menjawab persis dengan apa yang saya pikirkan. Akhirnya …

“100 untuk regu A” teriak dewan hakim yang sontak menyulut lonjakan kegirangan regu kota Cimahi dan membuat kami terdiam bisu, tidak percaya. Dengan tambahan 100 poin ini, regu Cimahi melaju ke babak selanjutnya dengan unggul selisih nilai ‘hanya’ 50 saja.

50 yang menyakitkan. 50 yang membuat official dan pasukan pendukung kota Bandung meninggalkan arena lebih dulu tanpa mau menyalami kami. 50 yang membuat wartawan Pikiran Rakyat dan Galamedia langsung mewawancarai kami, meski lebih terkesan menginterogasi.

Yang mereka pertanyakan mengapa bisa kalah oleh kota Cimahi yang masih seumur jagung? Aroma politis lebih terasa di sini.

Besoknya, berita kekalahan kota Bandung dari Cimahi menjadi headline berita tentang MTQ Jabar. ‘Regu MFQ Kota Bandung Tersingkir’.

Untuk pertama kalinya, nama saya disebut dalam media cetak, sayangnya dalam berita yang kurang positif. 

Teringat peristiwa 3 tahun sebelumnya, ketika memenangkan MFQ di kota Cimahi, kita menggunakan strategi tidak menjawab, dan lawan menjawab salah, sehingga kami ‘tidak sengaja’ menjadi kampiun.

Namun, karena kami lebih memilih kota Bandung, akhirnya kota Cimahi terpaksa saya tinggalkan, padahal saat itu kita masih belum dikenal di dunia Fahmil Qur’an Jawa Barat.

Dan pada tahun 2005, kota Cimahi hadir untuk ‘memberikan pelajaran’ atas kepongahan saya saat itu. Diunggulkan di atas kertas dan diramalkan bisa menembus 3 besar (sebagai modal juara umum), ternyata hasil akhir berbicara lain.

Kami kalah oleh kafilah yang dulu saya ‘sakiti’ dengan skenario mirip ketika kami memenangkan MFQ tingkat kota Cimahi. Bedanya, bila dulu ‘diam itu pemenang’, sekarang ‘diam itu pecundang’. Karena ‘kambing gate’ kita terhenti, he2.

Kami pun kembali ke penginapan di hotel Augusta dengan wajah tertunduk malu, tanpa sapaan hangat dari official dan suporter yang selama ini selalu mendukung.

Akhirnya saya memutuskan untuk ‘gantung buku’ sepulangnya dari Garut. Inilah event terakhir yang saya ikuti sejak tahun 1993. Kurang lebih 12 tahun saya melakoni petualangan ini dan akhirnya memutuskan untuk pensiun karena SK penempatan mengajar sudah saya terima.

— Untuk serial lainnya, silakan klik 
#1-6  | #7-10 | #11-13 | #14-15 | #16#17-18 (Anda sedang membacanya)|#19-22 | #23  | #24 #25 | #26  | #27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *