Bangkit dari Bangkrut? Itu Karena Saham

Tahun 2008-2009, ketika krisis berimbas ke pasar modal Indonesia, saya dan istri baru belajar tentang saham. Pendek kata, saat itu kami mengalami kerugian yang lumayan. Ya, dana titipan investor (meskipun masih keluarga) amblas lebih dari -70%. Hal ini berujung utang senilai ratusan kali gaji saya saat itu.
.
Jujur, di saat-saat itulah saya merasa bingung dan berpikir keras untuk keluar dari “kebangkrutan.” Gaji yang diterima hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal, sementara istri sedang akan melahirkan anak kedua yang jaraknya hanya berbeda setahunan dari anak pertama.
.
Namun, di saat-saat pelik dan perih seperti itulah, istri tercinta selalu tersenyum dan menyemangati saya dengan ungkapan, “Pa, boleh jadi apa yang membuat kita bangkrut hari ini, justru akan menjadikan kita bangkit di masa depan.”
.
Di masa-masa “paceklik” itu juga, kita sering makan bakso semangkok berdua, hanya karena ingin menghemat pengeluaran kita demi memenuhi kebutuhan rutin bulanan.
.
Tahun 2019-2020, sepuluh tahunan kemudian. Alhamdulillah, atas kuasa dan izin-Nya, utang kita semasa krisis 2008 terbayar “lunas” dengan cara Allah yang unik pada akhir tahun 2015. Utang yang tak pernah terbayangkan bisa lunas dalam waktu sebelum satu dasawarsa, ternyata bisa selesai dalam waktu tujuh tahun saja. Semua atas kuasa-Nya. Belum lagi di tahun kemarin, Alhamdulillah kita pun ditakdirkan Allah untuk bisa “merdeka” dari utang ke lembaga perbankan. Subhanallah …
.
Dan, jika kita merenungi lebih mendalam, saya selalu teringat apa yang pernah diungkapkan istri tercinta di masa-masa sulit itu. Ya, yang membuat kita bangkit adalah yang dulu menjadikan kita bangkrut. Itulah saham. Seolah menegaskan kebenaran ungkapan, “sesuatu yang tidak membuat kita mati benar-benar membuat kita kuat,” atas izin dan kuasa-Nya pastinya.
.
Maka, ketika pagi tadi kami berdua ditakdirkan kembali menikmati masa liburan bersama anak-anak, saya dan istri bernostalgia masa-masa ujian finansial itu dengan memakan siomay sepiring berdua sambil tertawa-tawa bahagia mengingat perjalanan yang kita tempuh selama ini.
.
Yakinlah, bahwa ketika Allah berfirman “Inna ma’al ‘usri yusran,” Dia mengulangnya dua kali di surat yang sama (Al-Insyirah), ini isyarat nyata, bahwa sudah pasti di balik kesulitan itu ada banyak kemudahan, sampai-sampai dikuatkan dengan kata “inna” dan diulang.
.
Uniknya, Allah menyebut kata “susah” dengan menggunakan alif laam (bentuk makrifah, “sudah tentu”), sementara kata “mudah” dengan diakhiri tanwin (bentuk nakirah, “belum tentu”). Ini menandakan bahwa biasanya kesusahan itu sudah tentu dan sedikit, tapi solusinya boleh jadi dalam bentuk lain dan banyak alternatifnya.
.
Semoga Allah memudahkan setiap urusan kita dan menjadikan kita termasuk orang yang senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan hanya kepada-Nya
.
Tegalcaang, 3 Januari 2020, 21:50
Saat listrik mati, dan senter hape menemani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *