Fahmil Quran Hikmah MAN 3 Cianjur Pendidikan Rehab Majlis

Jujur adalah Juara Sejatinya

6 Januari 2020. Saya diundang LPTQ Kabupaten Cianjur untuk menghadiri rapat evaluasi pelaksanaan MTQ 45 Tingkat Kabupaten Cianjur. Yang mengherankan adalah saya bukan pengurus LPTQ Kabupaten tapi diundang rapat persiapan MTQ. Saya niatkan saja bahwa ini sebagai kontribusi warga Cianjur untuk pengembangan pemahaman Al-Qur’an di kalangan masyarakat. Saya diminta membantu panitia sebagai koordinator Fahmil Qur’an, salah satu cabang lomba yang memang sudah menjadi passion (Silakan baca di bit.ly/fahmilq).

8 Januari 2020. Setelah ditunjuk sebagai koordinator, saya langsung gercep. Saya langsung membuat petunjuk teknis dan kisi-kisi perlombaan dan kemudian saya kirim ke ketua panitia sebagai bahan rapat teknis dengan LPTQ semua kecamatan.

24 Januari 2020. Beberapa hari menjelang perhelatan MTQ, panitia mengadakan technical meeting dengan seluruh official LPTQ tiap kecamatan. Di agenda ini, saya ikut membantu panitia menjelaskan dan menegaskan kembali petunjuk teknis dan kisi-kisi soal yang sudah dishare beberapa minggu lalu di room WA LPTQ Kabupaten.

28 Januari 2020. Dengan diawalli pawai ta’aruf semua kecamatan, maka secara resmi MTQ 45 Kabupaten Cianjur dibuka oleh Plt. Bupati Cianjur, H. Herman Suherman. Saya tidak mengikuti momen pembukaan itu karena sibuk melayani para pendaftar ulang cabang Fahmil Qur’an dari semua kecamatan. Tercatat 13 tim putri dan 8 tim putra yang siap bermusabaqoh dalam tiga hari ke depan.

29 Januari 2020. Sesi penyisihan dimulai. 21 tim memulai musabaqoh dari pagi sampai sore. Di antara 21 tim tersebut, ada 7 tim yang merupakan anak-anak dan murid-murid saya. 5 tim dari MAN 3 Cianjur, Tanggeung dan 2 tim dari Ponpes Al-Kautsar, Cibeber. Hasilnya, 5 tim berhasil melaju ke babak berikutnya, dan 2 tim terhenti di babak penyisihan. 2 tim tersebut tiada lain adalah perwakilan kecamatan Cibeber, 2 dari 6 peserta tim Cibeber ini adalah anak kandung saya sendiri, hehe.

30 Januari 2020. Babak semi final putri dan final putra digelar hari ini. Sebelum acara dimulai, berita duka datang dari Bandung. Ibu mertua wafat pada sekitar pukul 07.45 saat saya sedang menyiapkan bel untuk lomba. Istri dan kedua orang tua saya langsung meluncur ke Bandung, dan saya menyusul ke sana sore harinya.

Hasil final putra menghasilkan juara pertama dari Kecamatan Karangtengah, runner up dari Kecamatan Tanggeung, dan ketiga dari Kecamatan Warungkondang. Sementara dari kategori putri, Kecamatan Cibinong tampil sebagai kampiun, diikuti oleh perwakilan Kecamatan Tanggeung, dan ketiga dari Kecamatan Cianjur.

Bagi saya, siapa pun juaranya adalah kebahagiaan tersendiri sebagai panitia karena telah berhasil menyelenggarakan lomba secara netral. Beberapa waktu sebelumnya sempat terdengar bahwa panitia (terutama saya) dianggap tidak netral dan berpihak pada kecamatan tertentu. Ini karena ada beberapa tim yang memang adalah anak kandung dan anak didik saya.

Melalui tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa bagi saya, kejujuran adalah segalanya. Ini yang saya sering saya nasehatkan kepada anak-anak saya. Jika saja saya ingin memenangkan satu tim tertentu, mungkin yang akan saya utamakan adalah anak-anak kandung saya, Safwa dan Alfath yang mewakili Kecamatan Cibeber.

Saya memang yang membuat maqra soal MFQ di MTQ 45 Kabupaten Cianjur ini. Saya membuatnya di rumah dan di sekolah, MAN 3 Cianjur. Ruang kerja saya hanya berbeda satu ruang dengan kamar anak-anak saya. Tapi, saya pastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang mengetahui maqra soal itu sampai selesai pelaksanaan lomba, bahkan dewan hakim yang diketuai Waketum MUI Kabupaten Cianjur, Ustadz H. Ahmad Yani, pun baru mengetahui sampel soalnya semalam sebelum lomba dan itu pun beliau kembalikan ke saya.

Alhamdulillah, waktu yang menjawab segalanya. Beberapa official MFQ akhirnya mengakui bahwa perhelatan MFQ tahun ini memang lebih fair. Ya, karena bagi saya dan anak-anak, kejujuran adalah kejuaraan sejatinya. Dan ini sudah dibuktikan berkali-kali oleh saya sendiri dan anak-anak kandung juga didik saya dalam menjalani kehidupan yang  penuh ujian ini.

Meski demikian, saya atas nama panitia MFQ Kabupaten tahun 2020 memohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penyelanggaraan musabaqoh tahun ini. Mungkin karena musabaqoh kali ini adalah yang pertama (dan mungkin juga yang terakhir) bagi kami.

Demikian, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa menapaki hidup ini dalam kejujuran dan keikhlasan. Karena hidup di dunia hanya sementara, mari kita siapkan bekal untuk akhirat yang baka, dan sebaik-baik bekal itu adalah takwa. Dan, takwa ini bisa dimulai dari sikap jujur, jujur terhadap diri sendiri dan jujur kepada orang lain. Semoga! [amsi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *